Jul 13, 2012

Banjir 2

Siapa yang tidak merasa sedih dua hari berturut turut dalam kondisi yang tidak enak. Aku merasakan itu. Sore itu hujan datang saat aku masih berada dikantor. Aku merasakan hujan sore itu tidaklah deras seperti deras hujan yang mebuat aku sedih. Setengah jam dari beralalu jam kantor untuk pulang, aku memutuskan untuk pulang. Memang masih gerimis dan aku tidak membawa mantel untuk tempat berdetuhku dimotor.

Jalan yang kulewati kutemukan antrian mobil dan motor disetiap ada pembelokan. Gerimis itu membuat suasana orang ingin cepat-cepat pulang. Dan ketika aku berada hampir mendekati arah mau kerumah. Aku begitu terkejut melihat parit besar di perumahan yang sering aku lewati airnya penuh tumpah melewati batasnya parit besar tersebut. Aku melihat bagaikan sugai tidak tau mana pembatasnya, karena terlihat kolam yang sudah menyatu. Aku lemas melihat ini. jika keadaan perumahan yang biasa aku lewati setiap harinya seperti ini bagaiman lagi kondisi diseberang sana, tempat rumahku berada. 

Akhirnya aku sampai dijalan besar mau kearah rumahku, setelah melewati parit besar di perumahan itu. Yah sudah kudunga sebelah dari jalan raya itu macet. Sebelah jalan itu penuh air. Dan disebelah jalan raya itulah rumahku berdiri masuk kedalammnya sedikit. Aku melihat mobil2 antri, motor juga karena hanya melewati satu arah jalan saja. Karena aku tau daerah jalan itu, aku memutuskan melewati jalan sebelum tempat macet itu. 

Aku tiba dirumah. Seandainya bisa,aku tidak ingin melihat kondisi rumahku didalam. Tapi aku harus lakukan itu. Yaa dua kamar dirumahku sudah masuk air. Itu  sudah kuduga karena melihat air di parit besar itu sudah bagaikan kolam. Aku segera mengangkat barang-barang yang penting dirumahku. Barang-barang tersebut sudah aku kembalikan ketempat semula waktu bersih-bersih banjir pertama datang. Aku pikir pasti tidak ada banjir untuk berturut-turut seperti ini. 

Setelah kamar, ruang untuk bersama keluargapun masuk air. Karena tidak ingin airnya bertambah banyak dan menyebar kemana-man. Aku segera menguras air itu. Aku sedih, jujur aku mau nangis walau airmataku tak sampai jatuh. Aku menahan diriku untuk tidak bersedih. Dalam hati  aku berkata "mengapa begini?" apa yang terjadi? sampai dua hari berturut-turut. Juliku mengapa ada kesedihan masuk dua minggu melewati bulan ini? 

Setelah ada satu jam menguras air, kami makan. Sebenarnya tidak begitu semangat mau makan dalam kondisi seperti ini. Berhubung semalam ada family kami datang dari Jambi untuk ada pesta hari kamis ini. Mama udah masak siang tadi. Kami makan bersama ditempat ruangan yang belum tersentuh sama air. Mama masak ikan kesukaan kami sekeluarga hari itu. Jadi membuat kami semangat untuk menikmati makan   malam dalam kondisi seperti ini. Thanks mom...

Setelah siap makan, wah....airnya datang lagi. Mungkin memang pasti datang terus. Berhubung disamping kanan rumahku itu rawa. Air disana masih banyak tidak mengalir. Dijalan rayapun tembusan air ini mengalir penuh. Air mau kemana lagi untuk mengalir. Aku mengucapsyukur padaMu. Aku tau banjir ini tidaklah seperti air yang pernah genangi rumah hampir selutut aku. Ini memang berkurang, walau airnya tetap masuk. Aku bilang aku iri liat rumah didepan rumahku, rumah mereka  sudah direnovasi sehingga tidak mengalami hal yang kami rasakan. Aku bilang aku benci liat orang-orang yang membuang sampah dilahan sebelah rumahku yang menjadi lahan kosong belum ada yang membangun. Mereka seenaknya saja melempar segala jenis sampah disana. Aku benci tindakan dan sikap mereka yang tidak bertanggunjawab itu. 

Beberapa menit istirahat setelah makan. Aku lanjutkan tindakan pengurasan air  lagi. Ya, memang capek. Tapi akupun tidak bisa tidur membiarkan ini semua terjadi. Bau air yang kotor aku cium ada dirumahku. Setelah air hampir mengering dibagian salah satu rumah, dibagian lain lagi air sudah ada dan begitu terus, karena air datang dan gak berhenti mengalir. "aku capek mak." Aku beristirahat sejenak ditempat tidurku. Tempat tidurku lumayan tinggi sehingga tidak terjangkau air yang masuk waktu itu. Dan aku tertidur. 

Aku terbangun dari tidurku. Hari sudah pagi. Aku mendengar bunyi air yang berisik terasa ada digoncang-goncangkan. Ya, itu mamaku sudah bangun dari aku duluan. Dia sudah menyapu air yang sudah banyak mengumpul dikamarnya. Aku ingin masih tidur. Ingin berada didalam selimut yang menutupi aku. Tapi aku tidak bisa sepeti itu. Aku mengangkat badanku untuk tegak. Aku harus bantuin mamaku. Aku kuras air itu, dan airnya semakin bertambah banyak dari malam semalam aku kuras.

Pagi itu sudah menunjukkan setengah tujuh pagi. Aku sudah menguras banyak airnya. Airnya sudah kering. Aku pel lantai dirumahku. Waktupun terus berjalan, aku sebentar lagi mau kekantor. Aku siapkan cepat mengepel lantai-lantai itu. Dan mama udah bilang nanti sore aja kita gotong royong bersihkan rumah ini, tunggu mama pulang dari acara pesta family aku ada yang menikah hari ini. "Iya mom." itu jawabku.

Beralih kedapur. Dapur adalah bagian yang tidak dimasuki air. Karena dapur sudah duluan ditinggikan tempatnya dari bagian yang lainnya. Aku melihat piring-piring dan gelas berserak di tempat pencucian, piring  bekas makan malam kami semalam. Berhubung kondisi semalam gak memungkinkan untuk mencucinya. Aku segera mencuci piring dan gelas dan peralatan dapur yang kotor.  "Aku merasakan ada kekuatan lebih pagi ini." sehingga aku bisa mengerjakan semuanya itu. Terdiam aku sejenak berpikir, aku kuat pagi ini. Yang biasanya aku gak merasa kuat melakukan pekerjaan yang banyak. karena aku tau kekuatan tubuhku. Dan pagi ini ada kekuatan yang kurasakan mengalir dalam tubuhku. Ya, itu Penciptaku. Aku tau Dia yang beri aku kekuatan ini.  Thanks God.

Aku meninggalkan rumah dengan keadaan masih sedikit kurang baik. Ya memang air sudah kering. Tapi kan masih tetap tercium  bau yang tidak enak. Dan itu harus dipel lagi agar semakin bersih. Dan barang-barang harus dikembalikan ketempat semula. Ya, Banjir 2 aku menamai  kondisiku saat ini. Jika mengenang kondisi banjir banyak cerita lain lagi dibalik kata banjir. Aku punya cerita setiap tahun tentang banjir dirumahku. Ya, sudahlah. Bukankah segala sesuatu selalu mendatangkan kebaikan bagi mereka yang berharap padaNya.



pict from google






17 comments:

  1. Di daerah mana emang mbak..? sabar ya mbak.. memang seperti itulah orang yang kurang kesadaran,, membuang sampah sembarangan,, jika mereka sadar dengan apa yang mereka lakukan pastinya mereka takut untuk menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya.. sesuatu yang salah tempat tentunya akan berakibat tidak baik.. semoga orang2 seperti itu segera faham dengan kebiasaannya.. saya saja membiasakan segala prilaku saya agar selalu pada tempatnya,, yaahh.. walau sering salahnya.. maklum manusia tak lepas dari khilaf.. maaf mbak.. jadi ceramah..

    ReplyDelete
  2. semoga cepat berlalu ya banjirnya...

    ReplyDelete
  3. moga banjirnya cepat berlalu ya,,,banjir memang sudah menjadi masalah dimana2 akibat ulah manusia itu sendiri, pemerintah yg harus cepat mengambil tindakan tentu juga harus ada kerjasama dgn masyarakat :)

    ReplyDelete
  4. wahhh bagus sekali karya tulisannya mba :))
    maaf saya gak baca sampai habis, masih ada urusan nih

    ReplyDelete
  5. banjir memang kadang menjengkel apalagi sampai merusak koleksi buku buku dan juga surat surat penting lainnya. Salam dari Pontianak. Kalimantan Barat. Izin follow

    ReplyDelete
  6. emang udah terbiasa gitu ya mbk,, klo di tempat q sekarang lagi musim kemarau...

    ReplyDelete
    Replies
    1. dibilang biasa gak juga, karena semakin hari semakin banyak pembangunan dan mereka yg lebih dulu tanahnya semakin turun

      Delete
  7. cuacanya makin aneh sekarang.. -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. cuaca yg aneh ato masyarakat yg tak peduli lagi akan lingkungan

      Delete
  8. owww,..

    yg sabar ya kak.

    Untung di komplekku skrg gak banjir2 lagi. soalnya warga sering gotong royong ngebersihin saluran airnya ^^

    ReplyDelete
  9. Nice blog,,, N KEEP POSTING,,,


    aryocahyalesmana
    boekanpoejangga

    ReplyDelete
  10. Alhamdulilllah, banjarmasin ga prnah banjir ....

    ReplyDelete
  11. yaa mau gimana lagi, kadang memang uang sampah sembarangan tuh jadi kebiasaan kalo belom ngerasain akibatnya.

    dan yang repot bukan hanya orang itu saja.. tapi semuanya kena.

    hemm.. semoga segera surut banjirnya

    ReplyDelete

Saya senang jika sahabat semua memberi komentar
Gbu all

Kejadian 2 - Penolong

Kejadian 2 Kejadian 2:18 (TB)  TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong...