May 3, 2012

Kartini Engkau Pahlawan Kami Para Wanita

Raden Adjeng Kartini  lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879. Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.  

Perjuangan apakah yang dilakukan Kartini sehingga dia disebut pahlawan kemerdekaan? Kartini adalah pejuang kemerdekaan pendidikan bagi kaum wanita. Kartini adalah seorang wanita yang pintar, rajin, jenius, dan bijak, serta memiliki banyak teman baik orang pribumi dan orang Belanda. Dengan kepintarannya bisa berbahasa Belanda, Kartini menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Ia rajin menulis dan membaca. Di antara buku yang dibaca Kartini yaitu,buku berjudul Max Havelaar, Surat-Surat Cinta karya Multatuli, De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda. 

Kartini adalah sosok yang berani mengeluarkan pemikiran- pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, semua dituangkannya dalam surat-suratnya kepada teman-temannya di Eropa. Dan beberapa catatan- catatan yang dibuatnya. Pemikiran mengenai kondisi perempuan pribumi saat itu. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air). 

Kartini juga adalah sosok yang penurut dengan aturan orangtuanya. Ia mau menikah dengan dengan Bupati Rembang K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang telah memiliki tiga istri. Walaupun sudah menikah, Kartini masih tetap meneruskan cita-citanya terhadap kemajuan wanita dalam memperoleh kesetaraan dalam hal pendidikan. Dengan mendirikan Sekolah yaitu  Sekolah Wanita di Rembang, tepatnya di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.

Banyak hal yang telah diperjuangkan Kartini dalam hal kemerdekaan wanita memperoleh pendidikan. Trimakasih Kartini, engkau pahlawan kami para wanita. 

1 comment:

  1. kalau jaman sekarang ada yang seperti kartini, mau deh saya ngelamarnya ^^

    ReplyDelete

Saya senang jika sahabat semua memberi komentar
Gbu all

Wahyu 1 - Berbahagia yang baca,dengar & pelaku Firman Tuhan

31 Okt Wahyu 1 Wahyu 1:1 (TB)  Inilah wahyu Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kepada-Nya, supaya ditunjukkan-Nya kepada hamba-hamba...